Kenapa Aku Tidak Jadi Kodok Saja?

Ada sesuatu yang magis dan manis dari caramu menatapnya. Seperti siraman kental manis di atas parutan es dan potongan buah-buahan. Membuat lumer. Memperindah suguhan. Menyenangkan mata. Sengaja walau tidak disengajakan. Kau memang menumpahkan semua perasaanmu lewat sana, karena kautahu hanya itu satu-satunya jalur yang bersih dari kepura-puraan.

Dan, ada dua hal yang kemungkinan jadi alasan mengapa ia masih bisa berdiri tegak, bukannya meleleh jadi genangan di atas aspal basah berkat hujan yang barusan permisi. Opsi satu, sistem ketahanannya sudah mulai terlatih berkat pertemuan berkali-kali, relasi berbulan-bulan. Keseringan berhadapan mungkin menggiringnya menemui keterbiasaan.

Atau opsi dua, apa yang ia rasakan di masa kini, sudah tidak lagi sama dengan yang diakuinya dua tahun silam.

Kau masih ingat peristiwa itu: yang mengeliminasi satu-satunya jarak di antara kalian, yaitu keterasingan. Kala kalian berdua berhadap-hadapan, baju dan rambut basah tipis oleh tetesan hujan, dan deru napasmu juga napasnya saling berkejaran. Tatapanmu terbalik seratus delapan puluh derajat dengan yang kaupancarkan detik ini: pahit dan sarat kebencian. Dan, itu juga sengaja walau tidak disengajakan.

“Sudah kubilang, jangan mengejarku, Sialan!”

Bukannya marah karena ditumpahi makian, ia malah memamerkan kekehan. Seolah yang barusan kaukeluarkan bukanlah amarah, melainkan lawakan.

“Sekali Kakak bilang jangan, aku malah tambah penasaran, tauk.”

Detik itu pula kautahu, ia tipe manusia yang tak pernah kausuka. Yang entah bebal, buta pertanda, atau punya sensor penyerapan informasi serbaterbalik, melihat peringatan sebagai perkenan. Atau koloni anak Adam yang masokis, diam-diam jatuh hati pada omongan dan pembicara sadis.

Apa pun itu, kau tak peduli. Manusia tanpa predikat saja sudah menjadi momokmu, dan ribuan kali sudah kau terbangun dengan penyesalan, ‘Kenapa aku tidak jadi kodok saja?’. Apalagi yang paket kombo. Menyikapi manusia hanya akan membuat hidupmu yang sulit makin berbelit. Kau lebih tertarik menjauh darinya. Mencipta jarak. Namun, selangkah kau pergi, tiga langkah ia menghampiri.

“Kakak! Aku cuma mau kasih in—aduh!”

Langkahmu terhenti begitu suara debam tertangkap gendang telinga. Satu lagi karakter yang tak kausukai dari manusia, tercermin begitu nyata darinya. Para tukang ceroboh.

Seharusnya kau tidak peduli, pura-pura membutakan diri, sekalipun kautahu jelas di sana kaulah satu-satunya orang yang bisa membantunya, meski ia tak meraung minta dibantu. Seharusnya. Akan tetapi, ketiadaan ringisan lanjutan dari balik punggungmu selain kata ‘aduh’ tadi, mendorongmu menoleh.

Ia terbujur di sana, memeluk sebuah buku, sedang selengkung senyum terukir di bibirnya bagai perahu nelayan.

“Hehehe… Sudah kuduga, Kakak bakal menoleh kalau aku diam.”

Detik itu juga, kaupalingkan wajah penuh murka, dan angkat kaki. Manusia di balik punggungmu adalah paket kombo dari kombo yang paling kaubenci.

Tidak kauduga, dua tahun akan berlalu dan menjungkirbalikkan segalanya. Prosesnya tidak instan. Melainkan perlahan. Saking pelannya, kau sampai tak menyadari bahwa dirimu sudah jatuh terlalu dalam. Karena hadiah-hadiah yang berangsur ganti muara dari tempat sampah jadi kamarmu. Karena tumpahan curhat yang ganti respons dari sumpalan kuping sampai kalimat-kalimat penting. Seperti pupuk yang menyuburkan tanaman. Seperti api yang melelehkan es batu.

Kau yang tak suka manusia, malah jadi suka mempelajari manusia dan cara spesies itu memandang dunia. Lihat, saat ini, siapa yang memuja dan dipuja malah pindah posisi. Dunia memang terkadang mirip set permainan bulu tangkis.

“Ada yang lewat.”

Kalimatnya menghentak kesadaranmu. Kau pulang pada saat ini, momen ini, tempat ini, setelah pikiranmu berkelana entah berapa lama.

“Lewat?”

Ia mengangguk. Mendadak, kau tertegun. Bayangannya di pelupuk matamu barusan, dan tayangannya di hadapanmu kini, punya beberapa titik beda. Selapis udara dingin yang kauyakin bukan dari embus angin bekas hujan, menyapu tengkukmu. Membawakanmu rasa merinding.

“Lewat. Tadi.” Ia memberi tekanan pada ujarannya. Jemarinya menunjuk udara kosong di atas “Di sini. Kupu-kupu.” Tangannya turun, ganti atensinya yang naik. “Di mata Kakak. Entah apa. Di hidup kita. Orang-orang.”

“Maksud?”

Ia mengembuskan sekepul udara dengan keras. Karbon dioksida. “Kan, memang begitu. Orang-orang datang dan pergi. Sudah hukum alam.” Tatapannya menjauh. Terlempar pada ceruk aspal berisikan lumpur. “Seperti matahari.”

Kau masih mencerna. Namun, separuh hatimu sudah menerka.

“Kupikir, kalau begitu, berarti hari kita bakalan singkat. Cuma dua tahun, tapi sudah senja. Sebentar lagi sinarnya pad—”

“Kamu mau ngomong apa?” Dengusanmu terlontar, persis banteng siaga.

“Kita putus, ya?”

Napasmu memburu. “Jangan seenaknya.”

Lewat penolakan bersitatap darinya, kau menangkap dua opsi. Secuil dusta, atau seonggok rasa jengah. Entah mana yang benar. Kemampuanmu belum sampai pada taraf membaca pikiran pasti. Yang ada hanyalah percabangan.

“Semua orang bisa bertindak semaunya selagi punya kemauan.” Ia membungkus diri dengan jaket. Gestur bahwa obrolan ini sudah hampir ia selesaikan. “Kuharap, Kakak bahagia.”

Tidak ada adegan kejar-kejaran. Retak di dalam hati membuatmu terlalu kaget untuk memburunya yang pergi tanpa ucapan permisi. Memaku kakimu di titik yang satu, menitikberatkan matamu pada titik yang lain, sampai hujan rimbas kembali dari carikan mendung.

Kalau saja waktu bisa diputar, kau cuma mau satu hal: kembali ke momen dua tahun lalu, dan beranjak memunggunginya tanpa peduli ada yang jatuh di belakang. Seperti yang kini ia lakukan padamu, yang terjatuh dalam kubangan kesedihan.

Kalau saja waktu bisa diputar, kau cuma mau satu hal: kembali ke momen dua tahun lalu, sehingga kau tidak akan pernah mengubah perspektifmu terhadap manusia. Faktanya: spesies itu memang berbahaya. Mengerikan. Menjijikkan. Bahkan tanpa predikat sekalipun. Bahkan dirimu sendiri, yang kini malah rela jadi pecundang di bawah hujan sekalipun. Yang membiarkan air matamu menyaru bersama rinainya.

Untuk pertama kalinya setelah dua tahun disirap, kau ingin teriak, “Kenapa aku tidak jadi kodok saja?”

Andaikan kau terlahir sebagai makhluk hijau licin itu, kini kau sedang berkubang dalam ceruk jalanan yang diisi lumpur, lalu terbahak-bahak melihat manusia yang dipecundangi manusia lain, di bawah rinai hujan yang sama.

4 respons untuk ‘Kenapa Aku Tidak Jadi Kodok Saja?

Add yours

      1. 😂 😂 😂 Hahaha MLM, Jualan obat herbal?

        Ehmm sepertinya ada pertukaran PoV2 dan PoV3, malah ada omniscient juga (tapi dikit). Aku masih gagal memahami di mana posisi si narator.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: