Bom Waktu

Prompt: Baby

3268 kata

Tik … tik … tik …

Tangan waktu yang terus berputar dalam irama konstan menghantarkanku pada dua kata: Enam Bulan. Itulah masa yang kumiliki sampai bom waktu dalam diri ini meledak, dan menghancurkanku sendiri menjadi jutaan serdak-serdak kecil.

Bom itu terpicu karena Ibu berusaha menyembunyikannya dariku. Namun, entah memang aku yang kelewat sensitif, atau tubuhnya yang tidak sudi berkonspirasi dengan pemilik sendiri, aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Gundukan itu, beserta sweternya yang mulai terlihat sesak.

Maka, kala itu aku bertanya, “Berat Ibu nambah, ya?”

Aku benar, katanya. Berat badannya bertambah. Sayang, jawaban itu justru membuat dadaku memanas. Butuh usaha keras bagiku mendinginkannya.

Ya, berat ibuku memang bertambah, tetapi itu hanya separuh kebenaran.

Ibu pasti menyadari pergolakanku juga, tetapi dia malah berperilaku seolah-olah tiada yang salah. Seakan harinya berlalu seperti apa adanya, dan tak ada manusia seukuran semangka kecil yang tumbuh di perutnya.

Aku bahkan tak bisa pura-pura tidak melihatnya lagi. Semakin hari berganti, gundukan itu kian membesar. Sampai-sampai, setiap mataku berserobok dengan sosok Ibu, yang pertama kali kulihat adalah perutnya yang kembung dan kakinya yang bengkak.

Seharusnya, anak gadislah yang didudukkan ibunya di kursi, menundukkan kepalanya karena malu, lantas mengaku selagi air matanya jatuh dengan deras; melirih penuh sesal, “Aku hamil.”

Akan tetapi, yang mengisi hidupku justru kebalikannya. Ibuku yang melakukan semua itu, seolah ialah yang lebih muda. Mungkin karena wanita itu masih belia ketika memilikiku. Dan, kendati aku tumbuh meremaja, dia selalu berperilaku seakan tidak pernah sehari pun beranjak menua.

Maka, di sinilah aku sekarang, dengan suara gemuruh dan luahan magma yang hendak menyembur dalam dada, menyesapi bunyi detik jam dinding yang terasa bagai sebuah aba-aba untukku meledakkan diri.

Tik … tik … tik …

“Bukan salahnya dia hamil,” desah Gisel, menenangkanku dengan suaranya yang lembut, tapi mampu menghentakku ke dalam kesadaran. Gadis itu memfinalkan pernyataannya bersama helaan napas. Bukan jenis tarikan napas yang pasrah atau disemburati rasa iba. Melainkan wujud dari rasa sok, apatis, dan merendahkan.

“Memang,” sahutku, sebelum teringat bahwa aku sama sekali tak pantas berdebat dengan orang seperti Gisel. Dia tipe pasif-agresif. Pada akhir perdebatan kami, dia akan selalu setuju pada argumenku sembari mengangkat bahu dengan gaya angkuh, seolah tengah meremehkanku. Karena kemenanganku hanya datang lantaran ia menyerah. Karena ia bisa berjalan pergi dengan senyum tenang, sedangkan aku dibiarkan marah dan memendam rasa tak puas. Jadi, kali ini, kutinggalkan percakapan kami dengan kebungkaman, sembari meraup segenggam kentang goreng dari nampan dan mengunyahnya satu-satu.

“Jangan terlalu sedih dong, Nan,” Tris berujar santai di balik cheeseburger-nya. Lelaki berkulit kuning langsat itu adalah satu-satunya dari meja kami yang masih belum menandaskan makanannya, selagi aku dan Gisel hanya punya sisa kentang goreng. Tristan Hendrawan selalu jadi pemakan paling lambat karena terlalu banyak bicara. Dan akhirnya, dia harus membungkus sisa makanannya tergesa-gesa, hanya agar kami tidak menunggu satu jam lagi baginya untuk menghabiskan semua. “Bayi tuh anugerah. Rezeki,” lanjutnya setelah menelan.

“Bayi tuh kotor,” gerutuku. Aku terkulai secara dramatis sampai wajahku terkubur oleh lengan, meredam suara di balik lipatan tangan. “Proses reproduksi sama kotornya. Malah manusia pun sebetulnya kotor dan menjijikkan.”

“Astaga … Kok kamu bisa ngomong begitu? Manusia itu indah, tahu. Mahakarya terindah buatan Tuhan,” bantah Gisel.

“Kotor. Menjijikkan. Kotor. Menjijikkan …,” kututurkan berulang kali dalam intonasi yang sama. “Kuharap di kehidupan berikutnya aku bereinkarnasi jadi burung aja.”

Tris terlihat geli. “Kenapa burung?”

“Karena mereka enggak melahirkan. Mereka bertelur. Mereka juga enggak punya perasaan. Jadi enggak ada dalam kamus mereka buat berperilaku goblok.”

“Sinting kamu,” hardik Gisel. “Perasaan manusia tuh luar biasa, tahu. Bayangin, tanpa perasaan, hidup ini enggak bakalan punya makna. Orang enggak bakal melakukan sesuatu dengan rasa cinta. Dan kamu cuma bakalan hidup kayak robot yang hampa dan hambar selamanya.” Ia berdecak. “Kalau dipersilakan buat bereinkarnasi jadi hewan, aku sih, pengin jadi anjing. Katanya anjing punya sistematika perasaan yang mirip manusia. Jadi aku tetap bisa menjaga perasaanku, sambil berbaring telanjang tiap hari. Enggak perlu kerja terlalu keras buat biaya hidup dan bayar pajak negara …”

“Ngaco. Umurmu masih enam belas tahun,” sela Tris.

“Bacot. Kamu ngomong dengan mulut penuh,” Gisel membalas. “Jorok. Kayak babi.”

Tris mendaratkan telapak tangannya ke atas meja tiba-tiba. Membuat gelas milkshake-ku yang kosong bergetar. “Kalau begitu, aku bakal bereinkarnasi jadi babi!”

Gisel terlihat kesal. Didorongnya pundak Tristan. Sembari mencomot kentang goreng, mulutnya sibuk mengoceh entah apa. Tidak sanggup kudengar karena terbenam bahana tawa Tris yang menggelegar.

Kubungkukkan tubuh lebih dalam, menghela pandanganku agar menjauh dari mereka dan berlabuh pada tali sepatuku yang kotor. Seharusnya tindakan mereka tidak menggangguku. Namun, untuk beberapa alasan yang aku tak tahu apa, kuharap salah satu dari kedua temanku mencuri kentang goreng dari nampanku. Sehingga kemudian, aku bisa meledakkan amarah.

“Idih, Tris pencuri,” kata Gisel. “Mulai sekarang, aku bakal mendenda kamu seribu buat setiap kentang goreng yang kamu curi. Kamu sudah ngutang dua belas ribu ke aku dari minggu lalu.”

“Sepuluh.”

“Dua belas!”

Mereka tertawa lagi dan … tada! Itu dia, dinding kaca yang mendadak mencuat dari meja, yang lantas menyegel keduanya ke dalam gelembung kecil yang serbaprivat. Percakapan yang tidak dapat kupahami. Obrolan yang tidak butuh aku ada atau menghilang. Seolah kini mereka berada di planet lain, cuma berdua. Sementara aku hanya menonton dari monitor yang blur dengan radio di tangan, memanggil-manggil dengan tolol, ‘Halo? Bumi ke Tris dan Gisel?‘. Namun, yang kudapatkan hanyalah gemerisik yang statis.

Tak tahan berada lebih lama di sekitar mereka seperti ini, aku bangkit. Meluncur keluar dari meja dengan tiba-tiba. Keduanya menatapku, masih cekikikan.

“Eh, Nanda, mau ke mana?” Tris bertanya.

“Kamar mandi,” sahutku datar tanpa menoleh.

Aku melangkah dalam lingkupan amarah, mendengarkan tawa mereka memudar, dan menyusuri lorong kecil menuju kamar mandi. Suasana restoran yang riuh terhisap dalam keheningan ketika aku menutup pintu di belakangku.

Kutatap diriku sendiri melalui cermin yang sedikit berkarat dan tergores pada tepiannya. Mataku tampak suram, tak punya binar. Kusentuh pipi yang ditaburi bekas jerawat. Sejenak kubayangkan bahwa raut yang terefleksi di depan mata bukanlah wajahku, melainkan wajah Gisel. Kulit putihnya yang halus, bukannya kulitku yang hitam dan kasar. Mata hitamnya yang berbinar, bukannya mata legamku yang mati. Andai saja aku terlihat seperti Gisel, aku mungkin juga berpikir manusia itu indah.

Lihat, ketika aku berkedip, segalanya kembali seperti semula. Di depan mataku hanya ada wajahku. Kotor dan menjijikkan seperti biasa.

Kubekukan momen ini, potret di kepala tentang diriku di cermin, memerangkapnya dalam bayangan. Sebuah gambar terpaku di dalam bingkai di dinding kepalaku yang kuberi judul:

Potret Seekor Burung, Terperangkap dalam Wujud Gadis Manusia yang Menyedihkan’

Kubasuh wajah sejenak sebelum kembali ke dalam restoran. Membiarkan dingin air menyegarkan muka. Sebelum sampai, ketika mataku melirik ke arah meja kami, langkaku berhenti di tengah jalan. Dan, napasku tersembur dengan keras.

Tris dan Gisel saling bersandar di kursi, dengan tangan yang saling menggenggam, wajah yang saling melempar senyum, tatapan mata penuh binaran cinta.

Tik … tik … tik …

Bomnya masih menanti momen peledakan.

Gel itu berwarna mint, tetapi beralih sebening lapisan kaca setelah dioleskan menyebar pada perut Ibu yang telanjang.

Pada layar, seberkas gambar mulai muncul. Tampak bagai bercak putih pudar di tengah warna dasar hitam.

“Perempuan,” kata dokter sambil tersenyum.

“Perempuan!” Ibu membekap mulutnya sendiri. Kemudian, isakannya mulai terdengar, pundaknya berguncang, dan matanya memuntahkan air mata. Dia memang kelewat emosional dan sering menangisi setiap hal kecil. Dia bahkan menangis ketika hamster peliharaanku melarikan diri. Dia meneteskan lebih banyak air mata dalam sebulan daripada aku dalam seluruh hidupku.

Padahal biasanya, seorang putrilah yang menangis, dan ibunya yang kuat akan memeluknya erat sambil melirihkan kalimat penghiburan. Namun, kasusku adalah suatu anomali kehidupan. Sekali lagi, karena Ibu sepertinya tidak pernah benar-benar tumbuh.

Bahkan saat ini, dengan perut yang menggembung dan lapisan make up di wajah, yang bisa kulihat hanyalah seorang gadis remaja … seorang anak gadis

“Kamu bakal punya adik perempuan, Nanda,” bisiknya.

Dokter dan Ibu menatapku dengan mata yang berbinar. Seolah berharap aku mengatakan sesuatu.

Akan tetapi, aku hanya bungkam.

Tik … tik … tik …

Kue Ibu. Brownies atau Blackforest. Bisa kuhidu aroma cokelat yang manis menguar terbawa udara sampai ke kamar. Aroma yang mirip musim hujan, tapi membawa kehangatan. Melingkupiku dalam balutan kerinduan akan sesuatu yang tak bisa kudefinisikan.

Hingga akhirnya, aku keluar dari kamar; gua tempatku berhibernasi selama sekian jam belakangan. Kemudian berjalan menyusuri lorong persis zombie menelusuri aroma kehidupan. Kuharap kue itu blackforest.

Ibu tengah berdiri membungkuk di depan meja dapur, mengenakan celemek hijau limau dengan hiasan mutiara. Begitu menyadari aku tiba, dia langsung meluruskan tubuh, berbalik menatapku. Telapak tangannya ia seka di celemek, memberi noda cetakan tangan putih yang pudar pada permukaannya.

“Nanda,” serunya berbinar. “Ibu bikin brownies.”

“Aku enggak suka brownies,” desahku kecewa.

Senyumnya melebar. “Ini kan, favoritnya Tris.”

Rahangku mengatup ketika Ibu menyebutkan namanya. Aku beringsut ke meja makan, duduk di sana sambil membenamkan diri dalam kecamuk emosi sendiri.

Tentu saja Ibu membuat kue untuk Tris, bukan aku. Ibu mencintai teman-temanku, lebih-lebih seorang Tristan Hendrawan. Sepertinya dia berharap Trislah anaknya, bukannya aku. Ibu mungkin akan jauh lebih menikmati rupa Tris dalam kulit mulus bagai idola negeri ginseng, dekik di pipi yang akan terukir setiap kali ia tersenyum, dan lelucon santai serta tawa nan renyah. Jika kehidupan ini akibat dari hujan, maka Tris adalah pelangi, sedangkan aku adalah kubangan lumpur.

Atau, mungkin alasan di balik rasa suka dan kelewat ramah Ibu terhadap Tris dan Gisel, adalah karena dia tidak rukun dengan ibu-ibu lain. Mereka semua memandang rendah dirinya. Tentu saja. Sebagai seorang wanita yang hamil di luar nikah dan melahirkanku sendirian, Ibu adalah aib masyarakat. Apalagi, dengan kasus yang berulang sekali lagi dengan lelaki brengsek yang sama lagi.

Dengan kata lain, kendati Tris dan Gisel sebaya denganku, mereka lebih mirip teman-teman Ibu dibanding temanku.

Seolah membuktikan ini, Ibu bertanya, “Kamu enggak ngundang Tristan sama Gisel?”

“Enggak,” kataku, begitu cepat sehingga Ibu menoleh. Alisnya menyatu dalam kebingungan.

“Enggak?” ulangnya memastikan. “Kenapa enggak? Ibu bikin banyak kue lho, Nan.”

“Aku kan, enggak minta Ibu buat bikin kue banyak-banyak.”

Dalam-dalam, Ibu meraup napas dari udara melalui hidungnya. Wanita itu bungkam sejenak. Bibirnya menipis hingga tampak bagai garis merah muda yang lurus. Matanya terpaut ke langit-langit saat dia berpikir.

“Nanda,” katanya perlahan, “cuma karena mereka pacaran sekarang, enggak berarti—”

“Diam, Bu,” aku menggeram, berdiri dengan jengkel.

Ibu menatapku, dingin dan datar. “—enggak berarti kamu enggak bisa tetap berteman sama mereka,” lanjutnya tegas.

“Aku enggak suka mereka barengan.” Kukepalkan tanganku di samping tubuh. “Aku enggak bisa lihat mereka bersama-sama, senyum berdua, mesra-mesraan. Menjengkelkan banget, menjijikkan—”

“Lho, itu wajar. Namanya juga anak muda. Itu namanya gairah remaja, kamu harusnya ngerti.”

Ya, dan Ibu adalah orang yang paling tahu tentang gairah anak muda yang akibatnya malah memuntahkanku ke dunia ini, ‘kan, Bu? benakku menjerit.

Di sisi lain, suara asliku menyemburkan protesan, “Enggak ada yang mau jadi obat nyamuk, Bu! Aku kayak enggak ada apa-apanya di mata mereka, cuma anggota tambahan—”

“Nanda!” sergah Ibu tajam, memelototiku dengan sadis. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya sangat marah sampai-sampai asap keluar dari bahunya …

asap benar-benar melayang dari bahunya.

Detektor asap bergetar dan meriuhkan suasana. Sementara Ibu berteriak, bergerak panik hingga nyaris tersandung selagi menjauh dari oven, akulah yang harus mencoba tenang dan berpikiran logis seperti biasa. Bergegas, aku maju dan menghela pintu oven sampai terbuka. Kepulan asap hitam nan tebal mengepul dari dalam. Aku terbatuk, menahan perih di mata sambil mengibaskan udara. Kemudian, tanganku menelusup ke dalam oven, setengah mati menahan hawa panas yang mengecupi kulit, demi mengeluarkan nampan.

Rasa sakit yang mematikan menyengat dan menusuk kulit, membuatku menyentakkan tangan.

“Tahi!” Aku beserapah, menjatuhkan nampan kembali ke oven. Menjauh begitu terburu-buru, sampai tersandung ketika berderap keluar dapur demi menjemput wastafel kamar mandi.

Kualirkan air dingin ke permukaan kulit yang terbakar. Bercak merah mulai terbentuk di telapak tanganku.

“Apa-apaan kamu, Nanda?!” seru Ibu tiba-tiba dari liang pintu kamar mandi.

Dan aku balas membentak, “Ibu yang apa-apaan?!” Suaraku melengking menembusi bunyi keran yang mengalir dan alarm yang mendengking. “Ibu harusnya bertindak kayak ibu-ibu! Di sini orang dewasanya Ibu! Bukan aku! Kenapa Ibu malah kabur dari asap? Kenapa Ibu cengeng? Kenapa Ibu tidur sama bajingan itu? Kenapa Ibu hamil? Kenapa Ibu punya bayi?!”

Mata Ibu dipenuhi air mata lebih cepat daripada kedipan mataku. Cairan bening itu menetes ke hidung dan pipinya bagai anak sungai. Mulutnya terbuka dan tertutup, seolah ada ribuan kata yang akan meluncur dari sana.

Namun, ketika suaranya keluar, yang terdengar hanya, “Ibu enggak mengerti …. Kamu enggak mau … punya adik?”

“Aku enggak mau punya adik yang enam belas tahun lebih muda dariku! Aku capek dibilang anak haram! Aku benci keluarga ini!” aku menyeru di tengah napas yang menderu-deru. “Bahkan buat ngerawat aku aja Ibu nggak sanggup, kok!”

Tiba-tiba Ibu terdiam, mematung. Sunyi, seolah ada orang yang mencabuti steker radionya. Dia menatapku dengan sungai-sungai kaca yang terus mengalir di wajahnya.

Tetapi aku kepalang gusar. Ingin lekas menyudahi segalanya.

Ketika aku keluar dari rumah, alarm masih menjerit nyaring.

Dan bom waktu masih terus melaju.

Tik … tik … tik …

“Aku mau kamu putus dari Tris.”

Kulirik telapak tanganku. Garis merah yang pernah merekah di kulitku kini telah memudar jadi merah muda mengkilap.

Gisel duduk di sampingku, di bangku taman yang tersusun dari batu. Wajahnya pun ikut membatu.

Ia hanya sedikit memiringkan kepalanya, tetapi terpaku di tempatnya, bergeming.

“Kenapa?” tanyanya kemudian.

“Karena dia temanku.”

Gisel terdiam sesaat, kemudian tertawa. Namun, aku tidak tertawa. Tak kutangkap hal yang lucu dari ujaranku.

“Nanda,” katanya pelan, “aku juga temanmu, tahu.”

“Yah ….” Aku mendengkus. “Kalau-kalau kamu lupa, Tris dan aku udah jadi teman sebelum kami ketemu kamu. Jadi, tolong jangan kelewat batas.”

Gadis berambut lurus di sampingku sedikit menyipitkan matanya, meski masih mampu mempertahankan senyumnya. “Kamu suka sama dia?”

“Iya.” Aku menjeda. “Enggak.” Jeda lainnya. Kusemburkan napas putus asa. “Aku enggak tahu. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya, kalian berdua sudah menghancurkan persahabatanku dan Tris.”

Kepala Gisel mengangguk-angguk pelan, kendati aku ragu dia paham betulan. “Oke. Selain itu nggak ada masalah?”

“Enggak ada.”

“Kamu bohong. Ada.”

Aku tersedak ludahku sendiri. “Uhuk. Kubilang enggak ada.”

“Nanda,” kata Gisel sambil tersenyum, “kayaknya kita enggak lagi ngobrol soal Tris dan aku. Kita bicara tentang ibumu, ‘kan?”

Aku menatapnya tak percaya. Kemudian meletuskan tawa terbahak-bahak. “Kesimpulan macam apa, tuh? Kamu mabuk, ya? Kenapa juga ini tentang ibuku?”

“Segalanya selalu tentang ibumu,” sahut Gisel penuh penekanan.

Tawaku berhenti karena rasa geli dan gatalnya sudah permisi. Aku bahkan tidak benar-benar tahu tawaku tadi untuk apa. Gisel telah membuatku lengah. Napasku tersangkut di dada, dan aku tidak kuasa mengatakan apa-apa.

Padahal, aku sangat ingin mengatakan sejuta hal yang kejam. Aku kepingin bilang pada Gisel, betapa lancangnya dia. Aku kepingin bertanya dengan marah, apa yang dia ketahui tentangku. Dan, aku kepingin menamparnya dengan pernyataan bahwa aku membencinya.

Namun, yang keluar dari mulutku justru adalah kebenaran:

“Aku takut,” cetusku sebelum aku bisa menahan diri. “Aku takut sama bayinya, Gisel. Aku enggak mau Ibu hamil. Semuanya baik-baik aja sebelumnya. Aku enggak mau bayi itu dilahirkan. Aku enggak mau ditinggal sendirian.” Suaraku terputus-putus dan aku menarik napas dalam-dalam, gemetar. “Karena aku tahu, hidup seharusnya indah, tetapi buatku enggak—enggak pernah. Hidupku selalu jelek dan busuk. Hidupku ampas. Aku benci itu. Dan aku juga enggak mau bayi itu ikut mengalaminya.”

Dan, tiba-tiba, tanpa mampu mengendalikan diri, segalanya meluap. Aku menangis dan tubuhku gemetaran. Kuraup helai-helai rambutku dan menariknya dengan jari-jari, berharap hal itu mampu mencerabut apa pun yang menghempapnya; membersihkan kepalaku yang penuh.

“Aku emang egois ….” Aku terisak. “Tapi sialnya, aku beneran takut.”

Aku terlambat sadar ketika akhirnya Gisel memelukku. Dalam dekapannya, aku merasa tubuhku terdistorsi dan menjauh, seolah tengah berada ribuan kaki di bawah air. Di suatu tempat di mana kepalaku disambar oleh pemikiran yang sama sekali berbeda.

Tentang bagaimana tiga bulan telah berlalu sebelum aku tahu … Bahwa aku bahkan tidak tahu Ibu telah hamil selama tiga bulan …

Tahi.

Tik … tik … tik …

Tahi.

Dan, lagi-lagi, aku melakukan kesalahan. Aku tidak ada di rumah ketika air ketuban Ibu pecah. Dia dibawa ke rumah sakit oleh tetangga kami.

Tahi.

Ketika aku sampai di rumah sakit, Ibu sudah diantar ke ruang bersalin. Sendirian. Dan aku tidak di sana menyertainya. Kududuk di lobi, di deretan kursi kosong. Menunggu dalam gumulan cemas.

Tahi.

Seorang dokter mempersilakanku masuk ke kamar Ibu. Akhirnya aku bisa setengah mengerti bahwa mereka belum berhasil mengeluarkan bayinya. Mereka akan beristirahat sebentar sebelum mencoba lagi. Kala itu, kudapati Ibu berbaring di tempat tidur. Putih pucat seolah menyaru dengan seprai yang mengalasi ranjangnya. Bersama kulit yang licin oleh keringat, dan rambut kusut yang tergerai berantak. Dia terengah-engah saat menatapku.

Tanpa sepatah kata pun, jemarinya yang lembab membungkus tanganku yang menampakkan bekas luka bakar, meremasnya erat. Hingga kurasakan semua kecamuk emosi yang hinggap dalam diriku sebelumnya meleleh dan mengalir keluar lewat pori-pori kulit.

Akhirnya, kutemukan kata-kata untuk diucapkan. Hanya ada dua yang meletus dari sana:

“Maafin aku.”

Aku melirihkannya lagi, berharap bisa membawa arti lebih dalam lagi baginya, “Maaf.”

Tapi kata-kata itu tidak pernah bisa benar-benar mengungkapkan apa yang kurasakan, sehingga aku menyerah, dan hanya bersandar ke depan. Kuletakkan kepala pada pangkuan Ibu. Membiarkan air mataku jatuh ke wajah sampai waktuku habis; sampai aku terpaksa meninggalkan ruangan itu.

Tahi.

Selagi aku duduk di kursi tunggu yang dingin, Tris dan Gisel menghampiri dan duduk di kedua sisi tubuhku. Aku terjepit di antara mereka. Masing-masing meraup dan menggenggam sebelah tanganku. Dan aku bisa merasakan cinta mereka memancar ke dalam diriku.

Baru beberapa bulan yang lalu aku meraung dan menggerung demi kesempatan untuk merasa dicintai seperti ini. Tapi sekarang, dengan kedua sahabat di sisiku, aku menyadari …

bahwa aku memang selalu dicintai seperti ini.

Potret diriku yang busuk dalam kepala pun jatuh. Pecah dan hancur menjadi jutaan keping kecil, kemudian lesap dan lenyap selamanya. Karena itu sama sekali bukan aku. Inilah aku, di sini, di antara dua sahabatku, kelimpungan mengukur kadar cinta yang kuterima.

Bagaimana bisa kau menghitung sesuatu yang tiada habisnya?

Tik … tik … tik …

Inilah aku.

Menggendong bayi yang menangis di dadaku, dengan kedua mata berbinar menatap wajahnya. Di dalam dirinya bisa kulihat wajahku sendiri; mataku sendiri. Dan, aku pun bukan diriku sendiri melainkan ibuku. Aku bertanya-tanya apakah Ibu melihatku dengan caraku sekarang, ketika dia memilikiku untuk pertama kalinya pada usia yang sama. Apakah Ibu juga memelukku selagi aku meraung?

Tangan bayi yang merah muda terasa lembut ketika membelai pipiku.

Tik …

Kurasakan bom waktu dalam diriku berhenti berdetak tiba-tiba. Dan dengan was-was, aku menunggunya meledak.

Namun, penantianku tak kunjung menemui ujung. Hingga akhirnya, aku menyadari …

Tidak ada bom yang berdetak. Hanya jantungkulah yang berdenyut.

Tris dan Gisel berdiri di hadapanku. Membisikkan sesuatu dan tertawa terbahak-bahak berdua. Akan tetapi, entah mengapa, aku tak merasa keberatan sama sekali. Ibu duduk di belakang. Kendati bibirnya merekahkan senyum, dia menangis seperti biasa. Dan, lagi-lagi, aku tidak berkeberatan.

Entah bagaimana akan kujalani hidup esok dengan kehadiran anggota baru dalam keluargaku lagi. Mungkin akan ada lebih banyak makian yang akan kami tuai. Mungkin beban hidup kami akan semakin bertambah banyak. Mungkin Ibu akan semakin sering menangis, mungkin pula ia justru akan lebih banyak tertawa. Atau … mungkin tak akan pernah ada hari esok. Aku tidak tahu. Tidak ada seorang pun yang tahu. Tetapi karena tidak ada yang tahu, mungkin pula hari esok ada …

Sehingga kubuat janji di kepalaku sekarang, selagi menatap manik onyx bayi yang berpendar jernih:

Aku akan menjadi kakakmu, merawatmu, ada di sini untukmu. Aku akan mencintaimu, hari ini, besok, dan lusa, selamanya … Bahkan jika bomnya benar-benar meledak dan dunia ini runtuh, aku akan tetap berada di sini dengan detakku, detak jantung untuk mencintaimu.

Bayi itu hanya menangis.

Kini, aku mengaku. Aku dan bayi itu bukan burung. Kami manusia. Mahakarya Tuhan yang paling sempurna.

Tris dan Gisel tertawa. Ibu tersenyum sambil terus menumpahkan air mata. Adik bayi meraung dan menangis.

Ketika pelan-pelan kutarik tubuh adik bayi lebih dekat ke jantung, diam-diam, fragmen yang terpecah berantakan kususun lagi dalam kepala. Kali ini, kunamai ia: ‘Potret Seorang Gadis Manusia’.

Dan, kurasa Gisel benar. Manusia dan kehidupan ini indah.

[]

Satu respons untuk “Bom Waktu

Add yours

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
<span>%d</span> blogger menyukai ini: